
Akibat pemberlakuan ini banyak pihak yang tidak diuntungkan. Terjadi gejolak ketika PSBB diperlakukan, ada yang pro dan ada yang kontra. Pegawai kantoran pun dianjurkan untuk bekerja dari rumah, sehingga tidak ada yang berkerumun. Terutama yang menggunakan fasilitas umum untuk pergi kekantor sepreti kereta api, bus transjakarta dan lain-lain.
Semua aktifitas masyarakat dibatasi, acara-acara menimbulkan kerumunan pun dibatasi. Baik dari tingkat RT sampai kota, seperti arisan, pengajian, pernikahan dan yang lainnya. Bidang pendidikan pun secara otomatis mengikuti kebijakan ini dengan belajar secara online.
Permasalahan pun muncul akibat dari pembatasan aktivitas diberbagai sector kehidupan. Kita dipaksa untuk hidup tidak seperti biasanya, misalkan saja kita tidak boleh berkurumun. Padahal disana banyak hal yang dapat kita ambil faedahnya, misalkan dengan berkerumun kita jadi mengenal satu sama lain, berinteraksi, bersoialisasi dan lain-lain. Kehidupan pun berubah menjadi 180º.
Yang awalnya kita bekerja dikantor sekarang harus dirumah, yang tadinya sholat berjamaah di masjid sekarang sholat berjamaah di rumah, yang tadinya bisa liburan ke tempat wisata sekarang dibatasi.
Dampak dari pandemic covid-19 disegala aspek kehidupan baik secara ekonomi,, kesehatan, social budaya, pendidikan dan yang lainnya berdampak positif maupun negatif. Dibidang ekonomi juga mengalami dampak serius akibat pandemi virus corona. Pembatasan aktivitas masyarakat berpengaruh pada aktivitas bisnis yang kemudian berimbas pada perekonomian.
Laporan Badan Pusat Statistik (BPS) Agustus ini menyebut bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II 2020 minus 5,32 persen. Sebelumnya, pada kuartal I 2020, BPS melaporkan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia hanya tumbuh sebesar 2,97 persen, turun jauh dari pertumbuhan sebesar 5,02 persen pada periode yang sama 2019 lalu. Banyak perusahaan kecil maupun besar terdampak yang mengakibatkan pendapatan berkurang, pemutusan tenaga kerja dan lain-lain.
Misalkan saja dapat kita lihat mall, swalayan, restoran, café dan lainnya mengalami penurunan omset dagangannya dikarenakan pengunjung yang berkurang akibat dari pandemic covid-19 dengan dibatasinya aktivitas masyarakat (social distance). Akibatnya perusahaan harus melakukan efisinensi yang berdampak pada pemangkasan sampai pengurangan tenaga kerja (PHK).
Berdasarkan data Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) per 7 April 2020, akibat pandemi Covid-19, tercatat sebanyak 39.977 perusahaan di sektor formal yang memilih merumahkan, dan melakukan PHK terhadap pekerjanya. Total ada 1.010.579 orang pekerja yang terkena dampak ini. Rinciannya, 873.090 pekerja dari 17.224 perusahaan dirumahkan, sedangkan 137.489 pekerja di-PHK dari
22.753 perusahaan. ( tim riset SMERU)
22.753 perusahaan. ( tim riset SMERU)
Dibidang kesehatan juga mengalami dampak dari pandemi covid-19 baik positif maupun negative. Dampak negatif yang dialami diantaranya meningkatnya penderita yang terinfeksi, rumah sakit yang tidak mampu menampung lagi, tenaga medis yang rawan tertular, masyarakat yang takut kerumah sakit, penderita covid-19 yang depressi, stigma negative tenaga kesehatan.
Perkembangan pandemi COVID-19 terjadi begitu cepat, penularannya meluas dari daerah satu ke daerah yang lain bahkan ke berbagai negara dalam waktu singkat. Dengan penularannya yang cepat secara otomatis pasien yang terinfeksi pun bertambah. Hal ini menyebabkan beberapa rumah sakit kewalahan menerima pasien tersebut, yang mengakibatkan rumah sakit- rumah sakit tidak mampu menampung lagi.
Sehingga masyarakat mengeluhkan tidak mendapatkan pelayanan yang maksimal. Hal ini yang dari awal dikhawatirkan jika terjadi lonjakan pasien yang terinfeksi secara drastis dengan waktu yang cepat, rumah sakit tidak mampu menampung pasien. Sehingga diperlukan penanganan dengan memperlambat laju penularannya salah satunya dengan social distance.
Garda terdepan dalam melawan covid-19 ini adalah para nakes (tenaga kesehatan). Karena mereka secara langsung berhadapan dengan pasien yang terinfeksi, yang kemungkinan terbesarnya adalah mereka juga tertular.
Jika nakes banyak yang terinfeksi maka secara otomatis yang melayani masyarakat dibidang kesehatan berkurang bahkan tidak ada lagi. Hal ini juga telah membuat para nakes mengalami depressi dengan resiko tertular tinggi dan beban kerja yang berat menghadapi pandemi ini. Selain itu jumlah rekan nakes yang terkena covid-19 pun berjatuhan, walaupun mereka sudah melakukan prokes (protocol kesehatan) dengan ketat. Factor psikologis dan kelelahan juga mendorong cepatnya tertularnya virus ini.
Maka dari itu mereka memerlukan dukungan dari kita dengan memberikan apresiasi dan semangat bukan dengan mencela mereka. Selain di tempat kerja mereka juga harus menjaga keluarganya agar tidak tertular. Dengan tidak bertemu sementara dengan keluarganya. Perjuangan mereka luar biasa, hingga rela mengorbankan kebersamaan dengan keluarganya bahkan nyawanya.
Pasien yang terkena covid-19 juga mengalami depressi akibat dari virus yang menjangkitinya. Hal ini disebabkan belum ditemukannya obat yang dapat menyembuhkan secara cepat. Terlebih bagi penderita yang mengalami penyakit berat maupun penyakit bawaan seperti jantung, diabetes, asma, paru-paru, kancer dan lain-lain.
Selain itu juga mereka merasa kesepian tidak ada yang menunggunya dikarenakan mereka harus diisolasi, sehingga tidak ada dukungan moril dari keluarga secara langsung bisa bertemu. Hal lain yang membuat mereka depresi adalah penyesalan diri karena tidak mematuhi protokol kesehatan dengan benar. Akibat terinveksi virus ini pun membuat mereka merasa tidak percaya diri karena stigma penyakit ini adalah aib.
Sehingga ada juga yang tidak sabar dan ingin mengakhiri hidupnya. Ada beberapa ahli yang mengatakan bahwa untuk melawan virus ini adalah dengan daya tahan tubuh kita yang kuat. Misalkan dengan banyak makan buah dan sayur, mengkonsumsi suplemen, dan tidak stress. Jika kita sudah stress duluan maka virus dengan mudah akan mengalahkan imun kita.
Selain pasien covid-19, pasien yang mempunyai riwayat penyakit yang berat pun merasa takut dan cemas datang kerumah sakit, karena takut tertular. Pasien non-COVID-19 misalnya saja pasien lanjut usia, pasien dengan penyakit kronik seperti pasien diabetes militus, hipertensi, penyakit jantung, penyakit paru-paru, autoimun, hemodialusis (cuci darah). Mereka takut pergi ke rumah sakit untuk control tiap bulan dikarenakan takut terlular COVID-19. Dengan mereka tidak control tiap bulan membuat penyakitnya tidak terkontrol dan menimbulkan keluhan-keluhan lain. Hal ini akan memper parah penyakit yang dideritanya.
Tidak hanya dampak negatif saja melainkan juga dampak positif yang di dapat dilihat dari sudut pandang yang berbeda dibidang kesehatan. Diantaranya adalah masyarakat lebih peduli, nakes lebih waspada, kehidupan nakes jadi lebih teratur, kehidupan masyarakat yang senang berolahraga, para ilmuwan terpacu. Dengan adanya COVID-19 yang melanda negeri kita membuat kita bisa melihat perbedaan sebelum virus dating dan ketika datang.
Tidak hanya dampak negatif saja melainkan juga dampak positif yang di dapat dilihat dari sudut pandang yang berbeda dibidang kesehatan. Diantaranya adalah masyarakat lebih peduli, nakes lebih waspada, kehidupan nakes jadi lebih teratur, kehidupan masyarakat yang senang berolahraga, para ilmuwan terpacu. Dengan adanya COVID-19 yang melanda negeri kita membuat kita bisa melihat perbedaan sebelum virus dating dan ketika datang.
Kita jadi lebih peduli dengan kebersihan dan mematuhi protokol kesehatan. Yang tadinya jarang cuci tangan setelah memegang benda maupun ketika kembali dari luar rumah. Sekarang kita melakukan kegiatan cuci tangan dengan sabun setiap hari, dan itu memberikan dampak yang luar biasa. Kemudian juga kita mematuhi protokol kesehatan misalkan dengan memakai masker ketika keluar rumah.
Dengan adanya pandemi ini masyarakat menyadari pentingnya berolahraga untuk menjaga stamina tubuh. Banyak kita jumpai para bikers atau pesepeda berlalu lalang, pejalan kaki , jogging dan lainnya. Waktu berkumpul dengan keluarga pun lebih banyak sehingga menambah keharmonisan keluarga.
Di kalangan nakes pun terjadi perubahan, yaitu dengan kecurigaan diantara nakes membuat mereka lebih waspada dan memproteksi diri mereka dengan lebih baik. Selain itu jam kerja nakes yang biasa pulang sampai malam dengan pembatasan jam kerja membuat mereka lebih banyak waktu untuk istirahat, makan teratur, dan dapat berolahraga.
Tak hanya bidang ekonomi dan bidang kesehatan yang terdampak COVID-19. Bidang pendidikan pun tak kalah fatal terkena dampaknya. Kegiatan belajar mengajar harus dilakukan secara jarak jauh atau sering disebut dengan daring (dalam jaringan). Dengan diberlakukannya PSBB secara otomatis anak-anak tidak belajar disekolah melainkan belajar dirumah dengan menggunakan jaringan atau internet. Kegiatan belajar mengajarpun dilakukan secara online yang mana baik murid maupun guru harus menggunakan jaringan. Hal ini menimbulkan beberapa permasalahan.
Bukan hanya kesiapan yang masih perlu dibenahi dari pembelajaran jarak jauh ini, banyak kalangan yang ternyata tidak bisa mengikuti kegiatan belajar mengajar jarak jauh karena terbatasnya kemampuan masyarakat, misalnya banyak yang tidak memiliki perangakat yang menunjang pembelajaran jarak jauh. Dari pemberlakuan system belajar jarak jauh ini menimbulkan beberapa kontra dikalangan masyarakat, baik dari pihak siswa baik dari tingkat TK sampai perguruan tinggi/perkuliahan, orang tua atau wali, hingga tenaga pendidik.
Masyarakat sebagai Orang tua atau wali murid mengeluhkan dengan system pembelajaran ini. Yang terdampak dari pandemi ini adalah masyarakat dikalangan menegah atas maupun menengah bawah. Dampak dari pandemi COVID-19 bagi masyarakat kalangan menengah kebawah diantaranya bidang ekonomi, pendidikan, dan juga psikologis.
Misalkan dampak ekonomi seperti pemutusan hubungan kerja (PHK), menurunnya pelanggan dan lain-lain mempengaruhi pendapatan ekonomi keluarga sehingga untuk pendidikan anaknya pun terhambat, misalkan dalam hal pembayaran uang sekolah.
Karena seperti yang kita tahu, sistem pembelajaran jarak jauh (PJJ) menerapkan metode online atau daring yang memerlukan jaringan internet. Sedangkan kuota yang digunakan untuk mengakses internet tersebut harus dibeli dengan biayanya yang tergolong masih tinggi untuk beberapa anak. Selain itu, perlengkapan elektronik, bahkan orang tua mereka pun sampai mati-matian berusaha mencari dana demi anaknya bisa belajar.
Karena seperti yang kita tahu, sistem pembelajaran jarak jauh (PJJ) menerapkan metode online atau daring yang memerlukan jaringan internet. Sedangkan kuota yang digunakan untuk mengakses internet tersebut harus dibeli dengan biayanya yang tergolong masih tinggi untuk beberapa anak. Selain itu, perlengkapan elektronik, bahkan orang tua mereka pun sampai mati-matian berusaha mencari dana demi anaknya bisa belajar.
Ditambah lagi dengan system pembelajaran jarak jauh ini mereka harus menggunakan jaringan internet yang tidak sedikit dan peralatan elektronik yang mendukung pembelajaran system ini, seperti smartphone, laptop dan lain sebagainya. Tidak semua siswa memiliki fasilitas itu sehingga orang tua / wali dari siswa tersebut harus mencari sumber pemasukan untuk kebutuhan keluarganya, khususnya untuk pendidikan anaknya. Untuk memenuhi hal ini terkadang orang tua harus menghalalkan segala cara misalkan harus berhutang untuk membeli hp bahkan harus mencuri. Hal ini sangat disayangkan terjadi.
Dengan adanya kasus ini beberapa lembaga sosial seperti lembaga soisal yang mengelola zakat, infaq, shodaqoh melakukan program untuk meringankan beban keluarga yang terdampak pandemi COVID-19 salah satunya berkaitan dengan pendidikan. Salah satu lembaga melakukan program ini yaitu BAZNAS (Badan Amal dan Zakat Nasional).
BAZNAS Jabar berupaya terus untuk membantu masyarakat, salah satunya adalah dengan membuat kampanye "BANTU PELAJAR KURANG MAMPU UNTUK BELAJAR DARING" dalam rangka menggalang dana demi membantu para pelajar yang tidak mampu untuk mengikuti pembelajaran jarak jauh. Salah satu yang menerima manfaat program ini adalah Romlah ibu dari Malik yang merupakan anak yatim diusia 10 tahun.
Dengan bantuan ini Malik bisa membeli Hp untuk digunakan dalam pembelajaran jarak jauh ini. Romlah sangat bersyukur dan berterima kasih dengan bantuan ini karena ia tidak bisa memberikan fasilitas seperti Hp untuk pembelajaran jarak jauh. Masih ada lembaga sosial lainnya yang juga melakukan program yang sama.
Selain dampak ekonomi dikalangan masyarakat ekonomi, dampak secara psikologis juga dirasakan. Dengan pembelajaran jarak jauh yang mengharuskan anak-anak belajar dirumah membuat system belajar yang berubah. Dimana saat pembelajaran offline atau tatap muka anak-anak lebih dominan yang mengajari adalah guru, sebaliknya pada pembelajaran jarak jauh yang dilakukan secara online peran orang tua sangat dominan dalam mengajari anaknya.
Tentu hal ini sangatlah membuat orang tua kesulitan. Selain mereka harus mengurus rumah tangga mereka juga harus mengajari anaknya belajar. Materi yang harus mereka ajarkan kepada anaknya pun kebanyakan belum dikuasai. Banyak orang tua yang mengeluhkan sulitnya mengajarkan anaknya, “lebih baik belajar dengan gurunya saja”. Hal itu terjadi karena terkadang anak tidak paham-paham saat dijelaskan oleh ibunya, sehingga membuat suasana belajar tidak nyaman dengan ibu yang sering tidak sabar dan marah-marah kepada anaknya.
Selain dari masyarakat kalangan menegah kebawah, permasalahan akibat musibah ini juga terjadi dikalangan masyarakat kalangan menengah atas. terutama dampak psikologis, terlebih pada orang tua yang bekerja. Khususnya seorang ibu karena PJJ menambah tugas ibu. Ibu harus mengajari atau minimal memantau anaknya di jam-jam yang sudah ditentukan sekolah, bebarengan dengan tugasnya dikantor. Hal ini terkadang membuat orang tua yang bekerja diluar harus ekstra untuk mendampingi anaknya belajar dirumah dengan memantaunya.
Beberapa orang tua terutama seorang ibu mengeluhkan tidak bisa mengajari anaknya secara maksimal dengan bertatap muka, karena ibu tidak bisa mengecek secara langsung hasil belajar mandiri anaknya. Dimana tugas-tugas anak harus dikumpulkan sesuai dengan jadwal disekolah. Untuk itu ada orang tua/wali yang meminta kepada guru agar pengumpulan tugas anaknya setelah si ibu pulang dari kantor.
Hal ini mau tidak mau dilakukan agar orang tua/wali bisa memantau perkembangan belajar anaknya, meskipun harus mengorbankan waktu dengan membagi pikiran dan tenaga dengan urusan kantor. Ini merupakan salah satu cara agar pembelajaran dari rumah dapat berjalan dengan baik dan menghasilkan pembelajaran yang bagus. Kesabaran orangtua, menjadi modal utama agar anak tetap semangat belajar dan senang belajar walaupun ibunya bekerja diluar rumah. Mau tidak mau cara ini dilakukan orang tua/wali terutama seorang ibu, dimana pandemi ini tidak tahu sampai kapan akan berakhir.
Dengan munculnya permasalahan yang dihadapi orang tua terhadap pembelajaran jarak jauh ini ada beberapa “Tips mengurangi stress”.
- Orang tua melakukan Managing Expectation (pengelolaan harapan) kepada anak agar tercapai keseimbangan antara PJJ dan target sekolah. Seperti, merencanakan target belajar anak, menekankan tentang tanggung jawab anak terhadap tugasnya, tetap mempertahankan ritual kegiatan normal yang sama seperti biasanya. Mengasah lifeskill dengan membantu orang tua melakukan pekerjaan rumah seperti menyapu, mengepel, mencuci, menjemur, berkebun dan lai-lain, yang dilakukan dengan gembira.
- Orang tua sebagai tutor harus lebih sabar, gembira, aktif, dan kreatif, mempelajari kekuatan dan kelemahan anak dalam proses belajar, serta menggunakan aplikasi agar anak tertarik daripada metode belajar konvensional, seperti di sekolah.
- Menstimulus anak agar melakukan sesuatu yang mampu mengasah kemampuannya seperti menggambar dengan aplikasi, belajar menulis cerita baik dibuku tulis maupun mengenalkannya dengan dunia digital misalkan dengan menulis di blog. Mengasah keterampilan menghafalnya dengan metode satu hari satu ayat sehingga menambah hafalan qur’annya.
- Apabila orangtua kurang paham dengan tugas-tugas anak, mintalah bantuan keluarga, bertanya kepada guru atau orang lain.
- Membiarkan anak tetap berinteraksi dengan temannya (bisa melalui video call, aplikasi lainnya). Dengan begini anak tetap bisa bersoisalisasi dan dapat bercerita dengan teman sebayanya.
- Orang tua juga memberi jeda waktu anak untuk bermain dan melakukan hal yang disukainya. Walaupun mereka tidak diperbolehkan main diluar rumah tetapi mereka bisa bermain dengan saudaranya di depan rumah, berjemur dan lainnya.
Dengan beberapa tips diatas diharapkan permasalahan orang tua dapat berkurang dan orang tua bahagia mendampingi anaknya belajar. Dimana tugas utama mendidik anak adalah kewajiban orang tua. Seperti yang tertuang di dalam hadist yang diriwayatkan oleh Al Baihaqi dari kakek Ayub Bin Musa Al Quraisy dari Nabi shalallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Tiada satu pemberian yang lebih utama yang diberikan ayah kepada anaknya selain pengajaran yang baik.”
“Tiada satu pemberian yang lebih utama yang diberikan ayah kepada anaknya selain pengajaran yang baik.”
Ini bermakna kewajiban orang tua terhadap anak adalah hal yang utama untuk mengajarkan kebaikan serta memberikan pendidikan yang terbaik untuk anaknya. Baik dari mendidik dalam Islam namun juga duniawi. Selain itu ketika mendidik anakpun dengan kasih saying tidak memarahinya. Anjuran untuk mendidik anak dengan kasih sayang tertuang di dalam QS At Taghaabun 64:14-15
Ayat 14 : “ wahai orang-orang yang beriman! Sesungguhnya diantara istri-istrimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka; dan jika kamu maafkan dan santuni serta ampuni mereka, sungguh Allah Maha penyayang.”
Ayat 15 : “ Sesungguhnya harta dan anak-anakmu hanyalah cobaan bagimu dan di sisi Allah pahala yang besar.”
antara lain menyerukan kepada orang mukmin, agar memaafkan serta tidak memarahi dan juga mengampuni anak-anak dan bersabar ketika menghadapi kenakalan anak-anak, karena Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
antara lain menyerukan kepada orang mukmin, agar memaafkan serta tidak memarahi dan juga mengampuni anak-anak dan bersabar ketika menghadapi kenakalan anak-anak, karena Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
Dengan mengetahui bahwa berlaku kasih sayang terhadap mendidik anak adalah kewajiban dan diatur dalam kitab suci Al Qur’an dan Allah sangat perhatian terhadap hal ini, selain itu kewajiban sebagai orang tua pun ada didalam hadist Rasulullah.
Dalam sebuah hadits, Rasulullah SAW bersabda:
"Kamu sekalian adalah pemimpin dan kamu akan ditanya tentang kepemimpinanmu. Orang laki-laki (suami) adalah pemimpin dalam keluarganya dan akan ditanya tentang kepemimpinannya. Istri adalah pemimin dalam rumah tagga suaminya dan akan ditanya tentang kepemimpinannya." (HR. Bukhari juz 1, hal. 215).
Dalam hadits ini, kewajiban orang tua terhadap anak dalam merawat dan memberikan kasih sayang adalah hal yang patut dilakukan sesuai anjuran Rasulullah SAW.
Dengan adanya wabah ini membuat kita melihat kebelakang bahwa selama ini tanggung jawab mendidik anak terabaikan dan tidak menjadi perhatian utama, kita terkadang hanya menyerahkan pendidikan kepada sekolah saja. Dengan harus menangani sendiri anaknya membuat kita sadar bahwa mendidik anak itu berat dan butuh perhatian yang khusus. Anak tidak hanya terpenuhi secara ekonomi melainkan secara psikologis misalkan kedekatan dengan orang tuanya.









