Dampak Pandemi Covid 19 bagi Anak

by - Maret 17, 2021

Tidak terasa Pandemi Covid-19 di Indonesia sudah berlangsung selama delapan bulan. Meski tidak bisa digeneralisasi, pandemi bisa memberikan efek pada masyarakat, termasuk anak-anak. Dengan diterapkannya sistem pembelajaran jarak jauh (PJJ) di Indonesia, pola belajar anakpun berubah. Yang tadinya mereka belajar disekolah dan bertatap muka dengan guru dan teman-temannya sekarang berbeda. Mereka tidak lagi bisa belajar kesekolah bertemu dengan guru dan teman-temannya, bermain bersama, bercanda dan yang lainnya.



Dengan diberlakukannya PSBB secara otomatis mereka belajar dirumah secara mandiri dan dibantu oleh orang tuanya. Perubahan ini membawa mereka untuk menyesuaikan dengan system pembelajaran yang berbeda dengan biasanya.


Pembelajaran Jarak Jauh mengharuskan mereka mempelajari ilmu teknologi secara umum, misalkan mereka harus menggunakan Hp atau laptop untuk zoom meeting yang belum pernah mereka lakukan, bahkan mereka baru kenal aplikasi ini sejak pandemic melanda.


Dengan pemerintah memberlakukan sistem pembelajaran jarak jauh, mau tidak mau negara kita dipicu untuk mentransformasikan pendidikan kita lebih cepat. Sistem PJJ yang berbasis teknologi tentu mengharuskan lembaga pendidikan, guru, siswa bahkan orang tua agar cakap teknologi. Hal ini memicu percepatan transformasi teknologi pendidikan. Perubahan ini berdampak positif karena penggunaan teknologi dalam pendidikan selaras dengan era Revolusi Industri 4.0 yang terus bergerak maju. Apa itu era Revolusi Industri 4.0?

Era Revolusi Industri 4.0 menurut beberapa ahli diantaranya :

1. Menurut Kanselir Jerman, Angela Merkel (2014) revolusi industri 4.0 adalah transformasi komprehensif dari keseluruhan aspek produksi di industri melalui penggabungan teknologi digital dan internet dengan industri konvensional.

2. Menurut Schlechtendahl dkk (2015) pengertian revolusi industri menekankan kepada unsur kecepatan dari ketersediaan informasi, yakni lingkungan industri di mana seluruh entitasnya selalu terhubung dan mampu berbagi informasi satu dengan yang lain.


Sehingga, revolusi industri 4.0 adalah era industri di mana seluruh entitas yang ada di dalamnya dapat saling berkomunikasi secara real time kapan saja dengan berlandaskan pemanfaatan teknologi internet dan CPS guna mencapai tujuan tercapainya kreasi nilai baru. Adapun, bidang-bidang yang mengalami terobosan dengan munculnya teknologi baru:

  • Robot kecerdasan buatan
  • Teknologi nano
  • Bioteknologi
  • Teknologi komputer kuantum
  • Blockchain (seperti bitcoin)
  • Teknologi berbasis internet, 
  • Printer 3D.

Di Indonesia saat ini ada lima tulang punggung industri dalam menjalankan revolusi industri 4.0, yakni (1) makanan dan minuman, (2) tekstil, (3) otomotif, (4) elektronik, dan (5) kimia. Dengan adanya pandemi COVID-19 mau tidak mau bidang pendidikan pun melakukan percepatan dengan menggunakan teknologi berbasis internet.



Dengan penguasaan teknologi siswa mau tak mau belajar beberapa aplikasi yang mendukung pembelajaran jarak jauh (PJJ). Selain itu dengan fasilitas yang mendukung yaitu Hp dan Laptop mereka bisa mengakses dunia maya secara luas.


Yang awalnya mereka hanya menggunakan hp untuk main game online sekarang mereka bisa menggunakan hp untuk mengembangkan pengetahuan mereka, walaupun tidak semua siswa yang memanfaatkan secara positif. Tidak semua pelajar memiliki Handphone untuk melakukan belajar online.


Misalkan saja murid SDN Kedaung Wetan 2 di Kecamatan Neglasaroi, Kota Tangerang, tidak memiliki handphone. Padahal pada masa pandemi Covid-19 ini mereka harus belajar secara online. Suherni, guru kelas 6 SDN Kedaung Wetan, mengatakan sekitar 50 persen murid di sekolahnya tidak memiliki gadget. Menurutnya orang tua murid di sekolah ini berasal dari kalangan tak mampu. Apalagi dalam kondisi pandemi saat ini. Suherni menyebut untuk mengantisipasi masalah ini, dirinya memperbolehkan siswa ke rumah. Langkah ini diambil agar anak tetap bisa belajar. 


Selain itu jaringan internet juga mempengaruhi proses belajar daring atau PJJ. Sebanyak 9,25% dari seluruh siswa TK, SD dan SMP di Kota Bandung masih kesulitan mengakses pembelajaran jarak jauh (PJJ). Karena terkendala jaringan internet. Data tersebut didapat dari hasil evaluasi Dinas Pendidikan Kota Bandung selama penyelenggaraan PJJ tahap pertama pada Maret-Juni 2020. Kondisi didesa dan dikota sangatlah berbeda, terkait dengan akses internet dan kondisi alamnya.


Dengan jarak yang ditempuh dari rumah kesekolah yang lumayan jauh, membuat para guru berinisiatif untuk memberikan LK selama satu minggu dan menambah skillife mereka dengan membantu pekerjaan orang tuanya, misalkan membantu ayahnya di sawah, di ladang, menggembala hewan ternak, maupun membantu ibunya didapur.


Hal tersebut dilakukan agar mereka berempati kepada kedua orang tuanya.
Beberapa pakar psikolog memaparkan bahwa "Efek pandemi pada anak dalam jangka panjang ialah mengakibatkan perubahan, misalnya, biasanya mereka sekolah dan bertemu temannya, namun sekarang di rumah dan tidak bertemu orang, tetapi efeknya tidak bisa digeneralisasi," kata psikolog anak dan remaja, Ratih Zulhaqqi, saat dihubungi Republika.co.id, Senin (9/11).


Menurut Ratih, setiap orang, termasuk anak, memiliki kemampuan yang berbeda saat beradaptasi di setiap situasi. Kendati demikian, ia mengakui efek terburuknya adalah anak bisa menjadi stres, emosi yang naik-turun, mengalami kebosanan tingkat tinggi, atau bisa jadi malas ke sekolah lagi karena telah terbiasa di rumah. Oleh karena itu, Ratih mengingatkan bahwa kunci menghadapi pandemi ini adalah orang tua bersikap seperti biasa, seperti saat buah hati akan pergi ke sekolah di pagi hari. Aktivitas dilakukan sejak pagi hari dan manajemen waktu harus dijaga.



Selain itu pakar psikologi lainnya mengatakan bahwa pandemi Covid-19 ini juga berdampak pada diri siswa itu sendiri, yaitu terhadap keadaan jiwa atau psikologinya. Keharusan akan penyesuaian akademis, pembatasan sosial, dapat menimbulkan perasaan negatif. Komisioner KPAI Bidang Pendidikan Retno Listyarti berbicara dalam sebuah acara KPAI di Jakarta, Senin (29/6/2020) bahwa 


Banyak siswa yang stres hingga putus sekolah selama mengikuti PJJ daring. Ia juga berkata, “Banyak siswa stres hingga putus sekolah selama ikuti PJJ daring”.
KPAI khawatir dampak pembelajaran jarak jauh saat pandemic Covid-19 terhadap mental anak, menurut Komisioner Bidang Pendidikan KPAI Retno Listyarti, anak yang terisolasi dan harus mengikuti PJJ selama berbulan-bulan karena pandemic Covid-19, menghadapi resiko mental.


Anak menghabiskan lebih banyak waktu di depan layar gadget untuk mengerjakan tugas dan mengakses internet. Akibat yang ditimbulkan ketika anak terlalu lama dengan gadget diantaranya, mata mudah lelah, mata menjadi merah, bahkan ada juga yang bertambah minusnya.


Teknologi internet memudahkan komunikasi. Tapi di sisi lain juga berdampak negatif bagi perkembangan anak misalkan saja dengan mengakses internet yang bebas akan terbuka ruang gelap tempat predator seksual, hoaks, dan pornografi. Oleh karena itu kita sebagai orang tua juga harus menjaga putra putri kita dari kejahatan dunia maya. Selalu mendampingi dan memberikan pemahaman akan bahaya kejahatan didunia maya, sehingga anak-anak hanya mengakses apa yang mereka butuhkan saja. 


Dampak lain anak rentan mengalami gangguan kesehatan karena penggunaan peralatan daring yang berlebihan, misalkan saja gangguan penglihatan, kurangnya istirahat demi mengerjakan tugas. Pembelajaran Jarak Jauh secara daring juga meninggalkan permasalahan di keluarga ekonomi menengah kebawah dimana anaknya tidak bisa mengikuti pembelajaran daring dan terancam putus sekolah. Hal ini terjadi karena orang tuanya tidak sanggup untuk membiayai anaknya sekolah. 


Akibatnya rentan mengalami eksploitasi, yaitu ketika anak memilih berhenti sekolah akhirnya diminta orangtuanya bekerja/menikah. Dampak terakhir rentan mengalami berbagai kekerasan. Banyak cerita bahkan ada yang memutar video bagaimana susahnya orang tua mengajarkan anaknya materi yang diberikan oleh guru, sehingga terkadang orang tua tidak sabar dan memarahi anaknya. Akibatnya anak merasa tidak nyaman belajar bersama orang tuanya, sehingga proses belajar mengajar terhambat dan anak lebih suka bila diajarkan oleh gurunya disekolah.


Dikutip dari medcom.id memaparkan bahwa menurut survey yang dilakukan oleh Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) terhadap 1.700 siswa selama pembelajaran jarak jauh, dalam empat minggu pertama saja sudah ditemukan banyak siswa yang tidak senang dengan proses belajar online. KPAI menyebutkan presentase siswa yang tidak senang belajar di rumah sebanyak 76,7 persen dan 23,3 persen menyatakan senang dengan pembelajaran jarak jauh dari rumah.


Tingginya prosentase anak yang tidak suka belajar dirumah menggambarkan bahwa anak lebih senang belajar disekolah dengan gurunya. Pada dasarnya guru hadir pada diri murid untuk mendidik moral, etika, integritas, dan karakter.


Dampak lain yang ditimbulkan lainnya adalah dengan belajar secara online justru malah menambah rasa malas dan juga sulit untuk berkonsentrasi bagi siswa. Hal itu disebabkan dengan banyaknya tugas-tugas yang diberikan oleh bapak ibu guru, sehingga malas untuk mengerjakan. Selain itu siswa juga menjadi lebih banyak waktu untuk bermain gawai.


Seperti bermain game, membuka instagram, twitter, youtube, dan sosial media lainnya karena menurut mereka lebih asyik dibandingkan dengan belajar. Akibatnya muncul rasa malas yang sangat susah untuk dilawan dan juga sulitnya berkonsentrasi ketika belajar karena godaan sosial media, terlebih ketika guru malah sering memberikan banyak tugas yang membuat siswa semakin bosan dan stress ketika belajar.


Selain permasalahan lain yang timbul berkaitan dengan pandemic COVID-19 adalah gizi anak malnutrisi dan obesitas. Lebih dari 2 juta anak mengalami malnutrisi, hal tersebut dikarenakan pendapatan orang tua yang menurun sehingga mempengaruhi asupan gizinya. Sedangkan dan 2 juta anak lainnya mengalami obesitas.


Karena terus berada di rumah dan tidak keluar rumah membuat sebagian anak senang ngemil sehingga berat badannya meningkat bahkan mengalami obesitas. Tingkat obesitas pada anak juga diperkirakan naik seiring meningkatnya konsumsi makanan dengan kandungan gula, garam, dan lemak yang tinggi. Pemerintah hendaknya mendorong masyarakat untuk menerapkan pola makan seimbang dan gaya hidup sehat selama pandemi. Sehingga kesehatan keluarga terjaga.


Curhatan anak-anak yang kangen dengan sekolah. “Walau di rumah sering bertemu dengan keluarga, ayah ibu dan adik-adik, namun tetap saja ada rasa rindu dengan sekolah. Rindu akan suasana sekolah, rindu dengan teman-teman, rindu dengan guru, linkungan sekolah, kantin, kelas, maupun dengan lapangan yang menjadi tempat full bermain ku.


Di lapangan itulah aku jadi terhibur dan selalu bersemangat berangkat kesekolah dengan permainan bola yang sering ku mainkan saat jam istirahat maupun saat jam pulang bersama teman-temanku. Dengan bermain bola di kelas aku menjadi lebih bersemangat dan antusias mengikuti pembelajaran dibandingkan dengan belajar jarak jauh seperti sekarang ini."


Di tambah lagi teman-teman sebaya ku dan teman sepermainan ku yang selalu ada di kelas itu, yang menjadi teman mengobrol dan juga teman belajar serta teman bermainku. Rasa bosan di kelas serasa tidak ada di diri kami, karena selalu ada waktu untuk bermain, bersenda gurau dan belajar bersama dengan teman-teman dikelas.


Terlebih di sela-sela waktu belajar atau istirahat kami menyempatkan diri untuk bermain atau mengobrol. Paling sering di kelas kami bermain kartu gibas, kartu uno dan lain-lain. Permainan itu dapat menghilangkan rasa bosan dan malas kami. Mendengar celotehan dan tertawa mereka yang terbahak-bahak.


Sampai detik ini kami masih belajar dirumah, maka kenangan indah itu hanya tersimpan dan terngiang di kepala saja. Kami anak-anak sekolahan, yang diawal pandemic mendapat kabar bahwa kegiatan belajar mengajar di lakukan di rumah, merasa senang sekali. Tapi hal itu tidaklah lama, seminggu berlalu, rasa kangen dan bosan mulai terasa di benak kami. Keinginan bertemu dengan teman-teman dan suasana sekolah sangat membuncah didada kami, kapankah pandemic ini kan berakhir?”
Itulah sekelumit curhatan hati seorang anak yang merindukan sekolahnya.


Dampak yang diakibatkan pandemic COVID-19 tidak hanya negatif saja melainkan ada dampak positif bagi anak-anak. Salah satunya adalah Menambah wawasan dalam penggunaan teknologi. Teknologi pendidikan menciptakan cangkupan yang luas saat belajar mandiri. Teknologi pendidikan dapat menciptakan pembelajaran tetap berjalan baik serta mendukung pemerintah dalam upaya menjaga physical distancing sesuai protokol kesehatan.


Hal ini juga sesuai dengan arahan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan yang mengatakan bahwa “Proses kegiatan belajar mengajar harus dilakukan melalui pembelajaran daring atau jarak jauh (Berdasarkan SE No. 4 Tahun 2020 tentang kebijakan pendidikan dalam masa darurat penyebaran COVID-19)”.


Hal positif yang dapat diambil dari pandemic ini adalah pendidikan di Indonesia mulai bereksperimen dengan menciptakan beberapa teknologi pendidikan yang menunjang pembelajaran serta turut aktif mengikuti revolusi industri 4.0.


Misalkan dengan menciptakan teknologi pendidikan dengan berbagai macam model mulai dari aplikasi, website, podcast, class room dan lainnya demi menciptakan keadaan efisien untuk generasi muda/millenial saat belajar mandiri. 


Dengan teknologi pendidikan ini anak-anak dapat mengetahui bagaimana mengoperasikan beberapa aplikasi seperti google classroom, zoom meeting, google meet dan lain-lain. Selain itu anak-anak yang cenderung dengan IT bertambah lagi wawasannya dengan teknologi. Misalkan mereka bisa membuat video yang nantinya diupload di youtube, menulis dengan menggunkan blog dan kemampuan lainnya yang dimiliki anak terkait dengan teknologi.


Dampak positif lainnya yaitu banyaknya situs belajar online yang dapat di akses oleh siswa. Percepatan transformasi teknologi pendidikan yang disebabkan pandemi COVID-19 membuat berbagai platform meluncurkan berbagai aplikasi belajar online guna mendukung PJJ. Aplikasi belajar online membuat belajar #DariRumahAja# tetap dapat dilakukan dengan efektif. Aplikasi-aplikasi belajar online dikembangkan dengan penyediaan fitur-fitur yang memudahkan dalam menjalani pembelajaran secara online.


Salah satu aplikasi yang memiliki fitur yang keren, user interface yang friendly, teruji, dan andal adalah aplikasi eStudy. Aplikasi ini menjadi salah satu solusi PJJ yang sangat recomended untuk digunakan. Dengan aplikasi-aplikasi tersebut anak-anak dimudahkan dalam pembelajaran.

You May Also Like

0 Komentar